Bayang Reka Television  on Flash Media merupakan Streaming TV dengan system looping playback.

Sekretariat:
Bugel mas Indah D9-1,Karawaci,Tangerang, Indonesia - 15113
Phone/Fax: (021) 5517190
Email: bayangrekatv@yahoo.com
Bayang Reka Television on Flash Streaming Media
Hak Cipta @ Bayang Reka Television - Po Box 638 Tangerang 15001 Indonesia Phone: 021-5517190 e-mail: bayangrekatv@yahoo.com
Penyakit mental

Penyakit mental, disebut juga gangguan mental, penyakit jiwa, atau gangguan jiwa, adalah gangguan yang mengenai satu atau lebih fungsi mental. Penyakit mental adalah gangguan otak yang ditandai oleh terganggunya emosi, proses berpikir, perilaku, dan persepsi (penangkapan panca indera). Penyakit mental ini menimbulkan stress dan penderitaan bagi penderita (dan keluarganya).

Penyakit mental dapat mengenai setiap orang, tanpa mengenal umur, ras, agama, maupun status sosial-ekonomi. Penyakit mental bukan disebabkan oleh kelemahan pribadi.

Di masyarakat banyak beredar kepercayaan atau mitos yang salah mengenai penyakit mental, ada yang percaya bahwa penyakit mental disebabkan oleh gangguan roh jahat, ada yang menuduh bahwa itu akibat guna-guna, karena kutukan atau hukuman atas dosanya. Kepercayaan yang salah ini hanya akan merugikan penderita dan keluarganya karena pengidap penyakit jiwa tidak mendapat pengobatan secara cepat dan tepat.
Kami memiliki 22 room flash streaming edisi terbaru, yang semuanya bisa anda download secara bebas.
Untuk menikmatinya silahkan tekan tombol perak maka anda akan terhubung dengan beberapa room studio streaming kami.


Gangguan Mental Ternyata Penyakit Keturunan



Gangguan mental yang dialami seseorang ternyata ada gen penyebabnya yang bisa diturunkan. Telusuri riwayat keluarga apakah ada yang mempunyai gangguan mental sehingga bisa diantisipasi bukan untuk ditakuti.

Karena semua orang punya potensi sakit mental dengan berbagai faktor yang tidak mampu diatasinya. Faktor lingkungan, stres atau trauma bisa memicu seseorang mengalami gangguan mental.

Gen penyebab penyakit mental ini berhasil ditemukan peneliti Skotlandia. Studi ini menjelaskan bahwa penyakit mental bisa diturunkan dan mempengaruhi fungsi otak.

Gen itu adalah ABCA13 yang bersifat inaktif sementara pada beberapa penyakit psikologis seperti schizophrenia, penyakit bipolar dan depresi.

Peneliti membandingkan 2.000 orang pasien psikiatrik dan 2.000 orang sehat. Hasilnya, gen ABCA13 banyak ditemukan pada pasien dengan penyakit mental.

Peneliti percaya, gen itu mempengaruhi molekul lemak pada otak yang akhirnya mempengaruhi kejiwaan seseorang. Studi ini dimuat dalam the American Journal of Human Genetic.

“Ini adalah studi pertama yang menghubungkan kerusakan DNA dengan penyakit mental. Ini bisa jadi petunjuk untuk membuat obat bagi para pasien yang punya penyakit mental,” ujar Dr Ben Pickard dari Edinburgh University seperti dilansir BBC, Selasa (1/12/2009).

Sumber: Nurul Ulfah – detikHealth
Sekelumit  tentang Bayang
Bayang Reka Television telah menjadi ada sebagai rasa sayang kami terhadap Sdri. Bayang Reka Pradini (alm) yang begitu atensi terhadap hal-hal yang berkaitan dengan pengentasan budaya disekitarnya.


Bayang Reka Pradini dilahirkan pada tanggal 16 Desember 1989 dan dipanggil Tuhan pada tanggal 12 Januari 2006. Kendati usianya yang masih relatif muda, perhatiannya terhadap musik menjadi bagian yang begitu penting bagi kami. Bayang Reka Pradini menjadi inspirasi kami untuk terus menerus berkarya, tidak harus dengan upaya yang rumit,     sederhana  namun berarti terutama bagi diri sendiri dan bagi orang lain. Bayang Reka Television adalah sisi lain dari usaha untuk tetap menghidupkan semangat Bayang Reka Pradini di dunia ini. Kekuatan dasar yang menopang semangat kami adalah kegigihan pahlawan kecil kami, yang terus menerus berupaya untuk tetap eksis disetiap tempat, setiap waktu, bahkan mungkin sampai saat ini, Bayang masih terus melihat kegigihan kami juga untuk terus mengabadikan perjuangannya.
Sejak usia TK, Bayang selalu menjadi juara kelas, dan kecerdasannya memang sudah tampak sejak ia berusia 2 tahun. Ketika suatu saat ia mampu menhafal tulisan " air susu ibu tanda kasih sayang dan mencerdaskan kita semua" dan tentu membuat kami semua terperanjat waktu itu. Sampai ia berusia 13 tahun tidak pernah ada tanda-tanda kelemahan fisik pada dirinya. Hobinya adalah olahraga Volley dan musik (terutama mencipta lagu dan menyanyi). Namun rupanya Tuhan berkehendak lain. bayang yang begitu taat terhadap Tuhannya, justru dipanggil dalam usia yang masih sangat relatif muda (16 tahun). Namun... kami bangga karena diberi kesempatan melahirkan dan mendampingi Bayang sampai pada usianya yang ke -16.

Jaringan TV-Flash Media
Jaringan TV-Flash Media
Situs TV- online dengan koneksi terbatas
Paramnesia Reduplikatif
Beberapa gangguan mental memang termasuk "populer" dan diketahui oleh masyarakat luas. Namun ada beberapa gangguan mental yang jarang dan kurang lazim didengar.
Ini merupakan gangguan delusional yang mana seseorang yang menderita gangguan ini percaya bahwa tempat di mana ia berada sekarang bukanlah tempat yang sesungguhnya, namun sudah digandakan atau diduplikasi di sebuah lokasi yang lain. Penderita juga percaya bahwa ada tempat yang sama di dua lokasi yang berbeda secara bersamaan. Betapa ribetnya gangguan mental ini.

Gangguan mental ini umumnya dikaitkan oleh adanya cedera di otak yang bersifat menetap setelah terjadi kecelakaan.


Sumber: http://anunyaanu.blogspot.com
Gangguan ini lazim ditemukan pada orang yang menderita skizofrenia, walau ada pula orang yang menderita gangguan ini karena adanya cedera otak. Gangguan ini begitu mengganggu kehidupan penderita, karena penderita mulai menunjukkan rasa kurang percayanya pada keluarga dan teman-temannya sendiri.

Contoh dari gangguan ini: seseorang meyakini bila keluarganya telah mati dan jasadnya disusupi iblis, atau mahluk asing dari planet lain.

Khayalan Capgras (atau 'Capgrass sindrom''') adalah kelainan langka di mana seseorang memegang keyakinan delusional , biasanya pasangan atau anggota keluarga lain yang dekat, telah digantikan oleh penipu mencari identik. Khayalan Capgras digolongkan sebagai kesalahan identifikasi sindrom delusional, kelas keyakinan delusional yang melibatkan  identifikasi orang secara salah , juga mengalami kesalahan dalam hal tempat atau benda. Hal ini dapat terjadi pada forms.The delusi akut, sementara, atau kronis yang paling umum pada pasien yang didiagnosis dengan skizofrenia, meskipun dapat terjadi dalam beberapa kondisi termasuk setelah cedera otak dan dementia.Forstl, H.; Almeida, OP; Owen, AM; Burns, A., & Howard, R. (1991). Psikiatri, aspek neurologis dan medis sindrom kesalahan identifikasi: suatu tinjauan dari 260 kasus. Psikologi Kedokteran 21 (4) 905-910. [Http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?cmd=Retrieve&db=PubMed&list_uids=1780403&dopt=Abstract] Meskipun khayalan Capgras umumnya disebut sindrom , karena dapat terjadi sebagai bagian dari, atau bersama, berbagai gangguan lain dan kondisi, beberapa peneliti berpendapat bahwa itu harus dianggap sebagai gejala, bukan suatu sindrom atau klasifikasi dalam dirinya sendiri.
Teori di Balik Agresi

1. Pertama, learned mass agression—materinya sudah diproses lama dalam jiwa sejumlah individu yang disebut massa. Ini misalnya orang sudah berpikir kalau tidak pakai kekerasan, usaha untuk didengar akan gagal, sudah lama ditekan sehingga saatnya memuntahkannya, pelampiasan kekecewaan, tayangan, dst.
   2. Kedua, unlearned mass agression—terjadi secara spontan karena ikut-ikutan, karena naluri untuk mempertahankan diri atau untuk menciptakan keamanan, misalnya diserang oleh kelompok, dihakimi secara tidak adil, menjumpai maling yang tertangkap basah, dst.

Dari yang bisa kita amati terhadap agresi massa yang kerap terjadi, ada banyak bukti yang bisa untuk mengatakan bahwa the unlearned mass agression tidak terlalu berperan banyak dalam meng-anjlok-kan kualitas peradaban sebuah bangsa. Di banyak kasus, agresi ini tidak memiliki sebab-sebab yang berantai  dan secara umum masih terbilang manusiawi, meski tidak bisa dibenarkan. Tapi, untuk yang the learned mass agression, ini kerapkali sudah ruwet karena ada dua pihak yang telah sama-sama membangun sebab-sebab berantai. Misalnya tayangan televisi. Secara sepihak, kita bisa mengatakan stasiun TV-nya yang salah, kenapa agresi ditampilkan. Tapi, kalau melihat alasan dari pihak stasiun TV-nya, mungkin bukan itu logikanya.
Logika yang sering dipakai dunia industri, termasuk media televisi, adalah karena masyarakat kita menikmati tayangan sensasi dan ini terkait dengan rating. Rating itu ada kaitannya dengan iklan, dan iklan itu terkait dengan hidup-matinya stasiun TV. Apakah kita mau kembali ke model TVRI tempo doeloe? Ini hanya contoh yang sepele.
Pendidikan Berorientasi Kematangan 

Hasil riset psikologi, seperti dikutip Judith R. Harris (The Child: 1991), memberikan petunjuk, anak yang kurang mendapat secure attachment dari orang dewasa di sekitarnya akan cenderung agresif, kurang kompeten dalam menghadapi kemalangan, auranya kurang periang, gampang ngamuk menyikapi perbedaan. Mungkin, sekolah yang kultur dan iklimnya kurang bersahabat, dapat memicu gaya hidup siswa yang agresif juga.
Melihat Berbagai Dimensi 
Agresi massa yang kata pengamat semakin cenderung meningkat di kita, sepertinya tidak bisa dilihat hanya dari satu sisi dan dimensi. Bagi negara, ini harus dilihat sebagai koreksi, kenapa bangsa saya gampang ngamuk dan mudah disuruh bunuh diri dengan iming-iming surga? Bagi masyarakat, tekanan eksternal harus kita sikapi dengan meningkatkan mekanisme internal supaya lebih tertantang untuk maju, bukan selalu memuntahkannya keluar. Semoga bisa kita jalankan.
Hak Cipta @ Bayang Reka Television - Po Box 638 Tangerang 15001 Indonesia Phone: 021-5517190 e-mail: bayangrekatv@yahoo.com
WEB LINK:
Delusi Capgras
Delusi ini muncul pada orang yang memiliki keyakinan bahwa kenalan, teman, atau keluarganya telah digantikan oleh orang yang serupa untuk tujuan mengelabui, menipu, atau memanipulasi
HOME        ABOUT US        ACTUAL NEWS        ARSIP        BRAIN        CYNEMA        DANGEROUS ZONE       FLORA        FAUNA        HEALTH        HIGHWAY          ILMIAH
JOURNEY        KIDS        KULINER        KONFLIK        MAN        MISTERI     MUSIK        PLANET        PSYCHOLOGY        REKAYASA           SPORT     TRAVELING
TRAGEDI         UNPLUGE        WOMAN        X-FILE
All about Psychology:

Gangguan Mental Pemicu Obesitas



ORANG yang menderita depresi, kecemasan, serta gangguan mental lainnya lebih berisiko mengalami penambahan berat badan dan menjadi obesitas dibandingkan mereka yang tidak. Pernyataan ini dikuatkan oleh para peneliti dari University College London.  Studi mereka yang berlangsung selama 19 tahun menemukan, orang-orang yang menderita gejala dari satu atau lebih gangguan mental sebanyak 3 kali selama studi berisiko 2 kali lebih besar menjadi obesitas pada screening akhir dibandingkan mereka  yang tidak pernah melaporkan gejala.


"Kami memulai studi dengan orang-orang yang tidak obesitas," tutur peneliti Mika Kivimaki, PhD, seperti dikutip situs webmd."Lebih sering gejala gangguan mental dilaporkan, maka risiko mengalami obesitas di akhir studi juga semakin besar. Hal  ini menunjukkan adanya hubungan antara gangguan mental dan penambahan berat badan."

Tidak berlaku sebaliknya

Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal BMJ Online First ini, para peneliti melibatkan 4.363 pegawai pemerintah berusia antara 35 dan 55 sebagai partisipan. Mereka menjalani pemeriksaan ksehatan mental dan fisik di awal studi. Pemeriksaan kembali dilakukan sebanyak 3 kali di sepanjang 19 tahun studi. Pemeriksaan fiisk meliputi ukuran berat dan tinggi badan serta indeks massa tubuh (IMT).

Setelah menyesuaikan faktor risiko penyebab diabetes, seperti penggunaan obat-obat kejiwaan yang berkaitan dengan penambahan berat badan, peneliti menemukan kalau partisipan yang mengalami gejala-gejala depresi, kecemasan, atau gangguan mental lain  di awal studi lebih berisiko menjadi obesitas seiring waktu dibandingkan mereka yang tidak mengalami.

Tetapi, terang peneliti, hal yang sama tidak berlaku untuk kebalikannya. Dalam arti, obesitas tidak meningkatkan risiko mengalami depresi, kecemasan, atau gangguan mental lainnya."Saat melihat dari sisi yang berlawanan dan mencari tahu apakah penambahan berat badan memicu gangguan mental, hubungannya tidak jelas," terang Kivimaki."Bukan berarti tidak ada hubungan, tetapi hubungannya jauh lebih lemah."(OL-08)

Menganalisa Gangguan Mental Bella dan Edward


Edward Cullen si remaja pemurung dan Isabella Swan yang suka bertindak nekat adalah salah satu gejala gangguan mental yang banyak dialami manusia. Karakter Twilight pun jadi ajang para praktisi untuk mendiagnosis gangguan kejiwaan.

Fenomena film Twilight ternyata tidak hanya mampu menghipnotis romantisme jutaan orang dari berbagai kelompok usia. Film ini juga menjadi alat pengajaran efektif para psikiater di Amerika.

Dalam film Twilight diceritakan Edward adalah seorang drakula berusia lebih dari 100 tahun tapi memiliki penampilan layaknya remaja 17 tahun. Sikap remajanya ditunjukkan dengan kondisi kemurungan.

Sedangkan Bella adalah remaja yang rela mengorbankan dirinya untuk masuk ke dalam bahaya atau risiko. Untuk kedua gangguan mental seperti ini menurut para psikiater adalah pengobatan dengan cara terapi perilaku kognitif untuk melawan pikiran negatifnya secara otomatis.

Analisa Bella dan Edward ini terungkap dalam konferensi Asosiasi Psikiater Amerika bulan lalu. Psikiater menganalisis neurosis pada Twilight adalah semacam alat pengajaran yang efektif dalam 12 minggu mata pelajaran dan dijuluki dengan ‘Therapy Bites’.

“Mahasiswa dalam disiplin kesehatan mental terkadang bisa belajar banyak tentang apa artinya menjadi manusia melalui film atau novel yang populer, hal ini sama baiknya dengan duduk bersama pasien,” ujar Glen Gabbard, profesor psikiatri dan psikoanalisis di Baylor College of Medicine di Houston, seperti dikutip dari Wall Street Journal, Rabu (9/6/2010).
Video Artikel Lainnya:

Pengaruh Stress terhadap Memori Seseorang

Mengenal Metode Lovaas

Terapi Neurofeedback

COMPLEMENTARY THERAPHY & PHYSICAL THERAPHY

THERAPHY SENSORI INTEGRASI

Anorexia Nervosa

Depresi

Alzheimer

"Theory of Mind" pada Remaja Down Syndrom dan Penyandang Gangguan Perkembangan Mental

Gangguan Mental Ternyata Penyakit Keturunan

Psikopatologi  Anak dan Remaja Termasuk Prediksi Pengalaman Delusional Seperti  yang Dialami Individu Dewasa