Teori di Balik Agresi
1. Pertama, learned mass agression—materinya sudah diproses lama dalam jiwa sejumlah individu yang disebut massa. Ini misalnya orang sudah berpikir kalau tidak pakai kekerasan, usaha untuk didengar akan gagal, sudah lama ditekan sehingga saatnya memuntahkannya, pelampiasan kekecewaan, tayangan, dst.
2. Kedua, unlearned mass agression—terjadi secara spontan karena ikut-ikutan, karena naluri untuk mempertahankan diri atau untuk menciptakan keamanan, misalnya diserang oleh kelompok, dihakimi secara tidak adil, menjumpai maling yang tertangkap basah, dst.
Dari yang bisa kita amati terhadap agresi massa yang kerap terjadi, ada banyak bukti yang bisa untuk mengatakan bahwa the unlearned mass agression tidak terlalu berperan banyak dalam meng-anjlok-kan kualitas peradaban sebuah bangsa. Di banyak kasus, agresi ini tidak memiliki sebab-sebab yang berantai dan secara umum masih terbilang manusiawi, meski tidak bisa dibenarkan. Tapi, untuk yang the learned mass agression, ini kerapkali sudah ruwet karena ada dua pihak yang telah sama-sama membangun sebab-sebab berantai. Misalnya tayangan televisi. Secara sepihak, kita bisa mengatakan stasiun TV-nya yang salah, kenapa agresi ditampilkan. Tapi, kalau melihat alasan dari pihak stasiun TV-nya, mungkin bukan itu logikanya.
Logika yang sering dipakai dunia industri, termasuk media televisi, adalah karena masyarakat kita menikmati tayangan sensasi dan ini terkait dengan rating. Rating itu ada kaitannya dengan iklan, dan iklan itu terkait dengan hidup-matinya stasiun TV. Apakah kita mau kembali ke model TVRI tempo doeloe? Ini hanya contoh yang sepele.
Pendidikan Berorientasi Kematangan
Hasil riset psikologi, seperti dikutip Judith R. Harris (The Child: 1991), memberikan petunjuk, anak yang kurang mendapat secure attachment dari orang dewasa di sekitarnya akan cenderung agresif, kurang kompeten dalam menghadapi kemalangan, auranya kurang periang, gampang ngamuk menyikapi perbedaan. Mungkin, sekolah yang kultur dan iklimnya kurang bersahabat, dapat memicu gaya hidup siswa yang agresif juga.
Melihat Berbagai Dimensi
Agresi massa yang kata pengamat semakin cenderung meningkat di kita, sepertinya tidak bisa dilihat hanya dari satu sisi dan dimensi. Bagi negara, ini harus dilihat sebagai koreksi, kenapa bangsa saya gampang ngamuk dan mudah disuruh bunuh diri dengan iming-iming surga? Bagi masyarakat, tekanan eksternal harus kita sikapi dengan meningkatkan mekanisme internal supaya lebih tertantang untuk maju, bukan selalu memuntahkannya keluar. Semoga bisa kita jalankan.